Pak SBY, tolong katakan Anda tidak suka Republik Mimpi

Pemerintah (sebaiknya kata ini diganti menjadi Pengatur) akan kembali menunjukkan kekuasaannya yang absolut. Acara News Dot Com di Metro TV yang digemari publik walaupun menurut lembaga pemeringkat acara tv ratingnya tidak sebagus sinetron tak bermutu terancam akan disomasi oleh pemerintah melalui Menteri Komunikasi dan Informatika, Tuan Sofyan Djalil.

Gara-gara berita akan disomasi itu, News Dot Com yang ditayangkan Minggu (4 maret 2007) bermain kerajaan-kerajaanan. Njijiki banget sebenarnya melihat Jarwo Kuwat yang biasanya jadi Wakil Presiden malam itu menjadi Perdana Menteri.


Hari demi hari Kang Kombor semakin yakin bahwa siapa pun yang mencoba-coba masuk ke lingkaran setan kekuasaan yang dinamakan "pemerintah" itu akan:
  1. Berubah 180 derajad kepribadiannya. Yang tadinya tukang kritik, akan menjadi antikritik. yang tadinya suka demo, akan menjadi antidemo. Yang tadinya suka ngomongin pemerintah, akan menjadi antidiomongin. Kalaupun tidak berubah 180 derajad, dia akan menjadi hipokrit, paling tidak untuk dirinya sendiri. Hidup tersiksa karena batinnya bersuara lain dari mulut dan pikirannya.
  2. Berkurang lebih dari 50% intelegensinya. Lihat saja, yang pakar ekonomi dan selalu mengatakan kebijakan ekonomi pemerintah masa lalu ngak tepat (dan lebih banyak ngomong politiknya daripada ngomong ekonomi) saat ini lebih banyak diem karena prestasinya sebagai menteri juga nggak bisa dikatakan menonjol. Lihat saja sendiri, orang-orang pintar lain yang menjadi linglung setelah jadi menteri.
Siapa sih sebenarnya yang alergi kepada acara News Dot Com itu? Pak Menteri Sofyan Djalil atau Pak Presiden? Tolong Deh Pak Presiden, kalau Panjenengan yang alergi sama acara itu, Panjenengan sendiri yang ngomong ke publik, jangan lewat Tuan Sofyan Djalil. Kalau memang Panjenengan alergi sama Acaranya Effendi Ghozali itu, Panjenengan tidak ada bedanya dengan Simbah Kakung. Tahun lalu Republik BBM sudah kena. Tahun ini News Dot Com kena giliran.

Usul saya, cabut saja ijin semua stasiun TV swasta dan kembalikan monopoli penyiaran melalui TVRI seperti zaman dulu agar Menteri Penerangan bisa selalu menyebarluaskan petunjuk Bapak Presiden.

Kang Kombor mendukung acara News Dot Com secara acara ini tidak selalu memberikan kritik saja. Acara ini juga sering melayangkan pujian atas prestasi pemerintah. Akan tetapi, mungkin pemerintah tidak cukup dengan itu semua. Pemerintah ingin semua acara parodi politik isinya memuji pemerintah tanpa kritikan sama sekali. Tuan Sofyan Djalil itu lebih suka melihat rakyatnya bodoh melihat sinetron-sinetron tidak bermutu daripada melihat rakyatnya dimelekkan secara politik melalui acara yang berbobot semacam acaranya Effendi Ghazali itu.

Jalan terus Bung Effendi! Mosok keok sama ancaman somasi... Ealah... mimpi kok disomasi.
Bantu saya dengan membagi artikel di atas ke media sosial:

Tentang Kang Kombor

Seorang blogger desa, alumni Perguruan Pirikan, pernah belajar Manajemen di FE UPH, pernah bekerja sebagai penjual (salesman), punya pengalaman seputar pengembangan bisnis (busines development) dan manajemen proyek (project management).

29 komentar

Click here for komentar
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Selasa, Maret 06, 2007 8:25:00 PM

#kang kombor: ...News Dot Com di Metro TV yang digemari publik..
saya ga begitu seneng acara ini, kritiknya si ga masalah, joke itu rada2 garing.

#kang kombor: ..Berubah 180 derajad kepribadiannya. Yang tadinya tukang kritik, akan menjadi antikritik. yang tadinya suka demo, akan menjadi antidemo..
itu namanya profesionalisme, baik/jelek itu adalah institusinya, hrs dibela mati2an. Kaya aku sendiri, sekali arema tetep arema. Mana ada menteri yg mendemo menteri lain? team-order selalu jadi yg utama.

#kang kombor: ...Berkurang lebih dari 50% intelegensinya...
kalo ini emang dari sononya, sebelum jadi menteri udah dodol duluan. liat aja, kritikus2 yg kasih solusi ekonomi dll, cuman bisa di teori aja, susah/ga mungkin diimplementasikan.

tapi sayang juga nih acara klo dilarang, lebih sayang lagi, smackdown kok dilarang juga yah?

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Selasa, Maret 06, 2007 9:10:00 PM

Sepertinya mulai menghapus warna yang berbeda mentri kita yang satu itu. Mau nya yang sewarna dan yang bagus2 saja. Padahal payah pol, tidak satupun lini pmerintahan yang patut dipuji. Revolusi yukkk.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Selasa, Maret 06, 2007 9:10:00 PM

Bingung, sebenarnya saat ini kita hidup di jaman reformasi atau jaman yang penuh dengan penindasan yang sungguh menyesatkan.

Lalu apa artinya kebebasan berkespresi, apa artinya kebebasan pers.

Bukankah kritikan itu di perlukan, karena dengan kritikan kita jadi tahu, dan pasti kritikan itu sifatnya membangun.

SBY.....lo mundur aja deh jadi orang nomer satu di bangsa ini. Jangan sampai bencana terus menurus berdatangan...karena you presidennya.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Selasa, Maret 06, 2007 9:13:00 PM

@helgeduelbek: Mas Revolusi..... apakah Mas Urip sudah ada atau punya konsep untuk revolusi tersebut. Nanti jangan2 kayak dulu sebelum reformasi, semua orang menuntut untuk reformasi, tetapi setelah reformasi semuanya jadi kebablasan.

Saya juga dukung revolusi, kalau memang konsep2nya sudah benar2 mateng dan penuh dengan perencanaan.

Mohon maaf mas urip, jika saya salah berucap.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Selasa, Maret 06, 2007 10:02:00 PM

kebebasan berekspresi tentunya ada batasnya.. tidak serta merta karena kita bebas berekspresi kita dengan seenaknya sendiri.. seperti apa yang telah terjadi di sidoarjo... dengan dalih bebas berekspresi memblokir jalan protokol sehingga tidak hanya penduduk lokal yang menderita tapi seluruh indonesia kena dampaknya.. meskipun kecil...

kebebasan ekspresi masih ada rambu-rambunya... namun jangan menyakiti orang lain tentunya... toh kita semua tahu menyakiti orang lain hukumnya haram dan tidak dibenarkan... mari kita mulai dari diri masing-masing saja.. introspeksi diri...

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Oddie
Selasa, Maret 06, 2007 10:05:00 PM

kang kombor, pemerintah jangan diganti pengatur, tetapi pembina

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 12:26:00 AM

Kang klo saya lebih milih nonton Tukul Arwana Show dari pada nonton Republik Mimpi, Kerajaan Mimpi, News Dot Com, Republik BBM (atau laennya). Memang keliatannya mereka menonjolkan kritik cerdas, tapi terus terang BT nontonnya.

Cuman menonjolkan imitasi Megawati, Gusdur, Soeharto atau imitasi2 lainnya. Hidup Tukul (jadi 1/2 jam sekarang :-D)

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 12:47:00 AM

@ferdhie:
1. Gak begitu seneng berarti masih seneng toh?
2. Bukan profesionalisme itu namanya.
3. Jadi presiden milih orang2 dodol untuk jadi menteri, gitu?

@Pak Guru:
Sudah dua kali Pak Guru ngajak revolusi. Ini mancing2 apa serius? Kalau serius mari kita konsepkan, hehehe

@Kang Prayogo:
Saya nggak enak minta Pak SBY mundur, bapaknya adik kelas saya jee...

@Mas Anang:
Parodi-parodi Republik Mimpi itu kebablasan nggak? Bertanggung jawab nggak?

@Oddie:
Pembina? Istilah dibina, kalau di Akademi TNI artinya bisa lain loh...

@Mico:
Soale nonton Thukul bisa lihat sekwilda dan bupati yah?

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 3:15:00 AM

Di kampanye 2009, Pak SBY (mungkin) bilang :
Kita telah berhasil mengalahkan Republik Mimpi.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 4:59:00 AM

Setuju Pak SBY, saya juga betul betul tidak suka tayangan republik mimpi. Tidak suka melewatkan tayangan menghibur hati yang lara ini......

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
masdhenk
Rabu, Maret 07, 2007 6:08:00 AM

Republik mimpi?
waduh gak punya tipi nih :D

#Anang

soale semua jalur udah mampet mas, kena lumpur kabeh, jalur yang masih jalan adalah jalan raya...(bunderan waru dan sekitarnya) :D

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 7:52:00 AM

hehehe, saya juga nulis masalah ini Kang.
Sepekan ini seru, bisa-bisa somasi gagal. Kalo dilanjutkan somasi berarti tak beda dengan Orba. Nggilani

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Amd
Rabu, Maret 07, 2007 2:41:00 PM

Hehe, sementara setantron dan acara-acara gak mutu lainnya ndak diurusin, asal tidak ngeritik pemerintah.
Pemerintahan yang aaaneeeehhh....

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 3:07:00 PM

kang nanti kalau jd pemimpin jangan berubah 180 derajat ya...;), ada tuh yg dulu teriaknya kenceng banget, lebih kenceng dr kang kombor, saiki adem ayem...:(

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
mei
Rabu, Maret 07, 2007 5:21:00 PM

hari ini nulis hal yang sama di 2 blog, blognya cakmoki ma blognya kang kombor...

sinisme pribadi!!!masih krucuk koar2, nanti kalau dah jadi penggede ya meneng wae, ngglemgem kebayakan makan duit rakyat...cuih!!!

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 6:01:00 PM

Negeri kita ini patut masuk guinness book of record sebagai negara pertama yang melarang mimpi, nanti bakal ada badan sensor mimpi kayaknya

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 8:30:00 PM

#Kang Kombor: @ferdhie: ...
1. yah daripada sinetron
2. terus namanya apa?
3. Jadi presiden milih orang2 dodol untuk jadi menteri, gitu?
kayanya gitu ya, lha urusan negara ga ada yg beres tuh?

# helgeduelbek: ... Revolusi yukkk.
abis revolusi terus mo ngapain?

# prayogo: .. Jangan sampai bencana terus menurus berdatangan…karena you presidennya.
bukannya bencana dari tuhan?

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 10:25:00 PM

ya seperti itulah manusia, selalu merasa gak suka kalau dikritik, tapi lebih sakit jika kritik gak didengar, tul ga.
baca juga Toekang Kritik (Dikritik itu memang sakit, tapi jauh lebih sakit jika kritik tak didengar)

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 10:40:00 PM

@Zaki:
Hahaha.... aku sangsi apakah Pak SBY masih berani maju di tahun 2009

@Agor:
Ketinggalan tayangan sekali saja rasanya seperti nggak makan 3 hari

@Masdhenk:
Kalau nggak punya tipi, mampir di warung kopi saja. sambil nyruput kopi secangkir sambil merajut mimpi

@Cak Dokter:
Pancen nggilani tabiat para pejabat kita. Kupingnya alergi kritik.

@Amd:
Pemerintah siapa tuhhh?

@Bu Dokter:
Walah Bu... mimpi jadi pemimpin saja tidak, Bu. Mohon ampun, kalau mau tetap istikomah sebaiknya jadi tukang kritik aja terus, nggak usah jadi pejabat.

@mei:
Halah... kok sinisme pribadi? Ini namanya sentimen massal.

@Kang Guru:
Sepertinya Guinnes Book of Records perlu kita kontak nih, supaya masukin rekor itu.

@ferdhie:
Iye... bener. Urusan nggak ada yang beres karena orang-orang dodol yang dijadikan pembantu yah...

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Maret 07, 2007 11:43:00 PM

Numpang tanya kang, Kalau kang kombor yang jadi Menkominfonya, bisa ga kang kombor yang bilang ke SBY "Panjenengan sendiri yang ngomong ke publik, jangan lewat saya, he..he..he...biar ga disebut Tebar rexona gi loh".

Salam kenal kang kombor :-)

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Kamis, Maret 08, 2007 12:05:00 AM

ini reply ade armando ke saya di milis islamliberal dalam diskusi ttg newdotcom itu.

===

Saya memang kuatir bahwa yang apa yang dilakukan menkominfo adalah
cerminan menguatnya kolusi penguasa politik dan penguasa bisnis untuk
menguasai informasi dalam rangka melenggengkan kepentingan segelintir elit
di Jakarta.

Rangkaian tindakannya terkesan sangat pro pada kepentingan pemodal besar
(perhatikan keberpihakannya dalam isu microsoft, serta sentralisasi
perizinan radio dan televisi). Dalam diskusi di ramako fm sabtu lalu,
dalam diskusi tenatng kemungkinan revisi uu pers, Menkominfo juga wanti2
mengingatkan agar revisi tersebut memberi perlindungan/ jaminan bagi
pengusaha pers.
Tentu saja tidak ada yang salah dengan gagasan memberikan kepastian hukum
bagi pelaku usaha, namun masalahnya pesan tersebut dia garisbawahi saat
diskusi sebenarnya sedang asyik ramai bicara tentang perlindungan terhadap
pekerja pers.

Bagaimanapun, kemudian kita melihat bahwa keberpihakan itu bukan tanpa
pamrih. Seraya melindungi kepentingan pengusaha, menkominfo juga
menunjukkan taringnya dengan memberikan isyarat ketidaksukaannya pada
kebebasan pers dengan memberikan pernyataan soal somasi newsdotcom,
ataupun berulang2 menyatakan bahwa uu pers ternyata tidak membawa
keuntungan pada siapapun (tanpa cukup mengapresiasi manfaat kebebasan pers
yang dilahirkannya) . begitu juga menkominfo menunjukkan jatidiri
sebenarnya ketika ia sempat meminta agar presiden tidak segera
menandatangani surat pengangkatan anggota dewan pers yang baru.

Saya mungkin salah, tapi dari apa yang saya tahu saya percaya, menkominfo
adalah ancaman bagi kebebasan pers di Indonesia.

ade armando

> sejujurnya saya melihat menkominfo kita, pak sofyan jalil ini memang
> sering tampil tidak simpatik.
> 1. masalah microsoft yg diletakkan diatas IGOS
> 2. masalah frekuensi radio yang mau di sentralisasi lagi
> 3. masalah jalur frekuensi siaran tv swasta yg ingin dikoersialkan lagi
> oleh depkominfo
> 4. program parodi politik yang berkali kali di banned oleh mendkominfo
> sehingga harus berpindah pindah stasiun tv
> dan lain lain.
>
> ada apa sebenarnya dengan pak menkominfo ini ? mengapa dia perlu
> berperan otoriter ? akan nyalon lagi kah sebagai menteri sehingga perlu
> berita dan publikasi terus menerus ?
>
>
>
> salam,
> ari condro

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Kamis, Maret 08, 2007 1:23:00 AM

@Mas Soe Genk Gie:
Salam kenal.

Kalau saya yang jadi Menkominfo (untungnya bukan) akan saya katakan seperti itu. Atau, alternatifnya, akan saya katakan "Presiden memerintahkan saya untuk mensomasi News Dot Com. Sebenarnya ini bertentangan dengan prinsip saya yang menjunjung tinggi kebebasan pers." Soale, saya tidak akan pernah melakukan itu, wong News Dot Com itu acara favorit saya.

@Papabonbon:
Terimakasih atas sharing pendapatnya Ade Armando.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
ritz crap
Senin, Maret 12, 2007 8:05:00 AM

harusnya menkominfo masukin aja dalem acara kick andy...

abis d wawancara, habis tu kick aja ke laut...

gitu aja kok repot!

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Senin, Maret 19, 2007 5:50:00 PM

[...] Yah, semoga aja statement-nya jujur, bukan karena kemarin dipesani sama Pak SBY yang (siapa tahu) tidak menyukai program ini. (Halah buruk sangka nih! Ndak boleh!) Ingat Pak, semua ucapan dan pernyataan anda DIREKAM, dan [...]

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Kamis, April 05, 2007 4:49:00 AM

wah wah...
kalo tau jadi pemimpin itu sulit kayak gini, saya mendingan ikutan slogannya kang kombor aja deh, -tidak mimpi jadi pemimpin-

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
sam
Rabu, April 18, 2007 9:07:00 PM

Gitu aja kok repot.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Senin, November 26, 2007 10:55:00 PM

Saya pribadi kurang menikmati gaya lawakan yang agak "sinis" (walau memang cukup lucu).

Kadang ... lawakannya agak terasa garing. Saat melucu, kadang2 saya merasa pemainnya tertawa agak "dibuat2". :(

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Jumat, Mei 09, 2008 6:11:00 PM

lol.... :)) idem bang, saya juga ndak enak, bapaknya abang kelas saya je... :P

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Minggu, Oktober 25, 2015 11:45:00 AM

Nice info. Thanks for sharing.

Balas

Join This Site Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Silakan berkomentar dengan sopan