Sekoteng

Sekoteng. Mendengar nama itu tentu Kawan-Kawan langsung menebak bahwa sekoteng adalah nama untuk wedang jahe yang diberi aksesories kolang-kaling, irisan roti tawar dan kacang tanah goreng. Ya, di daerah Jabodetabek memang seperti itulah sekoteng. Untuk yang tinggal di komplek perumahan di Jabodetabek tentu tidak asing dengan minuman hangat dari jahe itu. Penjajanya biasanya memakai pikulan walaupun kadang ada juga yang memakai gerobak dorong.
Di Jogja, Solo, Boyolali dan beberapa daerah di Jawa Tengah, minuman dari jahe itu disebut wedang ronde. Entah mengapa namanya bisa berbeda. Tidak usahlah kita bahas. Lebih baik mari kita lihat sekoteng yang Kang Kombor jumpai pada masa kecil dulu di Sleman.

Jelas Kang Kombor tahu wedang ronde. Untuk wedang jahe yang ini di seputaran Yogya mudah dijumpai. Pedagangnya menggunakan gerobak. Jarang sekali yang menggunakan pikulan.
Nah, mengenai sekoteng, Kang Kombor juga waktu kecil pernah menjumpai. Sekoteng itu berupa wedang jahe instan ukuran satu gelasan yang dikemas menggunakan plastik transparan. Dalam kemasan plastik itu terlihat butiran-butiran gula dan serbuk jahe serta aksesoris sekotengnya yang sudah dikeringkan. Warnanya dominan merah, hijau dan kuning. Kang Kombor suka sekali minum sekoteng model itu.
Tak dinyana tak disangka, saat jalan-jalan di Giant Citra Raya Tangerang Kang Kombor menemukan sekoteng seperti itu. Kang Kombor langsung membeli satu set sekoteng itu. Isinya ada lima sachet. Kang Kombor ingin bernostalgia dengan sekoteng yang Kang Kombor dulu sering nikmati.
Sekoteng yang Kang Kombor temukan di Giant agak berbeda pada aksesorisnya. Sekoteng masa kecil Kang Kombor aksesoriesnya terdiri dari potongan dadu berwarna merah, hijau, kuning dan putih serta ada yang berbentuk lembaran tipis. Sedangkan, yang Kang Kombor temukan di Giant Citra Raya Tangerang semua aksesoris dalam bentuk dadu.
Akan tetapi, tetap saja sekoteng dari Giant Citra Raya Tangerang itu mampu menghadirkan kembali suasana masa kecil Kang Kombor di Sleman, sebuah Kabupaten di DIY yang kini keistimewaannya sedang diobok-obok Pemerintah Pusat melalui SBY. Dalam hati ini timbul gairah untuk mempertahankan keistimewaan DIY. Bahkan, daripada keistimewaan dirusak, Kang Kombor berpandangan sebaiknya Yogyakarta berdiri sejajar saja dengan Jakarta seperti Timor Leste.
Hmm... Sekoteng yang nikmat. Senikmat kemerdekaan.
Bantu saya dengan membagi artikel di atas ke media sosial:

Tentang Kang Kombor

Seorang blogger desa, alumni Perguruan Pirikan, pernah belajar Manajemen di FE UPH, pernah bekerja sebagai penjual (salesman), punya pengalaman seputar pengembangan bisnis (busines development) dan manajemen proyek (project management).

5 komentar

Click here for komentar
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Jumat, Desember 10, 2010 12:30:00 AM

wew jangan salah, om. itu favorit saya :D

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Jumat, Desember 10, 2010 4:33:00 PM

Wah... paporitnya Kang Andi tah... Nanti kita minum sekoteng bersama, Kang

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Jumat, Desember 10, 2010 9:55:00 PM

wah... jaman emang modern.. segala sekotenglah instan...
BTW, kalo jogja referendum... berarti saya punya temen orang luar negri... wah...

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Jumat, Desember 10, 2010 10:31:00 PM

Apa sih yang nggak isntan? Mau jadi politikus kelas wahid saja bisa instan sekarang.

BTW, kalau Jogja Merdeka, kita bikin komunitas bloger lagi...

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Sabtu, Oktober 24, 2015 11:18:00 AM

Nice info. Thanks for sharing.

Balas

Join This Site Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Silakan berkomentar dengan sopan