Gowes Keenam: Pengrajin Anyaman Bambu di Rancakalapa

Agus Cikupa sedang mengerjakan proyek di Serang, Banten. Andi Sakab tidak membalas sms. Kang Kombor pun memutuskan untuk mengeluarkan sepeda dan bersepeda menuju Kampung Rancakalapa, Desa Rancakalapa, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang untuk mencari para pengrajin anyaman bambu guna ditulis prpfilnya di TopiBambu. Sambil berolah raga Kang Kombor melaksanakan tugas sosial TopiBambu. Alhamdulillah Kang Kombor berhasil mengidentifikasi nama-nama pengrajin anyaman bambu dan berhasil menemui Pak Mahmud yang memproduksi kukusan bambu.

Sepeda Kang Kombor di pinggir danau bekas galian tanah di Rancakalapa

Dalam perjalanan ke Rancakalapa Kang Kombor melewati sebuah danau bekas galian tanah. Ada dua danau kecil bekas galian tanah yang Kang Kombor lewati saat menuju Kampung Rancakalapa. Kang Kombor turun ke danau yang kedua dan mengambil beberapa gambar pemandangan danau tersebut. Foto di atas adalah salah satunya. Foto yang lain dapat dilihat di Photobor. Cari saja Rancakalapa Lake apabila fotonya sudah tidak tampil di halaman depan blog foto Kang Kombor itu.

Kang Kombor menemukan Pak Mahmud secara tidak sengaja. Kang Kombor belum mengeluarkan jurus bertanya kepada penduduk Kampung Rancakalapa. Kebetulan Rumah Pak Mahmud terletak di pinggir jalan dan saat itu Pak Mahmud sedang membuat pinggiran kukusan. Kang Kombor berhenti dan bertanya kepada Pak Mahmud mengenai barang yang sedang dibuatnya. Ternyata Pak Mahmud adalah pengrajin kukusan bambu. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Kang Kombor menemukan salah satu pengrajin alat rumah tangga dari bambu. Kang Kombor bertanya macam-macam kepada Pak Mahmud layaknya wartawan. Ya, Kang Kombor memang sedang mencari informasi seputar kegiatan Pak Mahmud.

Pak Mahmud pengrajin kukusan bambu dari Rancakalapa

Di Kampung Rancakalapa masih banyak kebun bambu. Akan tetapi, menurut Pak Mahmud, bambu dari Kampung Rancakalapa tidak bagus dibuat kukusan karena ruas-ruas bambunya pendek-pendek. Yang bagus dibuat kukusan dengan ukuran seperti yang Pak Mahmud buat adalah bambu dengan panjang ruas minimal 50 cm. Hmm... Kang Kombor jadi tahu bahwa tidak semua ukuran bambu dapat dibuat kukusan.

Di seberang jalan, berseberangan dengan rumah Pak Mahmud juga ada pengrajin kukusan bambu. Akan tetapi, tetangga Pak Mahmud itu tidak setiap hari memproduksi kukusan karena ia juga berdagang dan bertani. Berbeda dengan Pak Mahmud yang sehari-harinya membuat kukusan bambu.

Dalam seminggu Pak Mahmud dapat membuat tiga kodi kukusan. Kukusan-kukusan yang sudah jadi itu diambil oleh pedagang untuk dijual berkeliling atau dibawa ke pasar.

Loso Bu Ponah dari Rancakalapa

Dari rumah Pak Mahmud perjalanan Kang Kombor teruskan. Secara tidak sengaja pula di sebuah rumah di pinggir jalan Kang Kombor melihat anyaman bambu yang terletak di atas balai-balai di teras rumah itu. Kang Kombor pun berhenti. Kebetulan ada seorang anak berusia delapan tahunan di rumah itu dan Kang Kombor bertanya,"Dik, apa yang di atas balai-balai itu?" "Anyaman bambu, Pak?" jawab anak itu. "Siapa yang menganyam?" Kang Kombor bertanya lagi, "Nenek, Pak." jawab anak itu. Kang Kombor pun berhenti untuk melihat anyaman itu dari dekat. Kebetulan tidak lama kemudian datanglah ibu anak itu. Kang Kombor pun banyak bertanya kepada Bu Gonjing mengenai anyaman itu. Anyaman itu adalah anyaman loso. Loso adalah bakalan untuk membuat topi bambu pramuka. Akan tetapi, loso juga dapat dipergunakan untuk membungkus semangka. WOW!

Bu Gonjing bercerita bahwa ibunya yang bernama Bu Ponah yang membuat loso itu. Bu Gonjing kadang-kadang membantu tetapi Bu Gonjing tidak dapat menganyam loso dari nol. Setelah terbentuk anyaman seperempat jadi seperti yang terdapat dalam gambar di atas, Bu Gonjing baru bisa melanjutkan. Bu Ponah atau Nenek Ponah sudah tua tetapi sudah menganyam loso sejak usia muda dahulu sehingga dalam keadaan cahaya kurang terang pun Nenek Ponah masih bisa menganyam. Wanita-wanita muda jarang yang dapat menganyam loso seperti Bu Ponah.

Bakul nasi buatan Pak Ade dari Rancakalapa

Dari Bu Gonjing informasi mengenai pengrajin bakul nasi bambu dan penganyam ilaban juga Kang Kombor dapatkan. Pengrajin bakul nasi dari bambu di Rancakalapa itu bernama Pak Ade. Sedangkan penganyam ilaban bernama Bu Amah atau Nenek Amah. Ilaban adalah anyaman seperti loso tetapi untuk membuat topi bambu yang berbentuk seperti topi koboi. Hmm... ini mungkin sisa-sisa penganyam topi bambu yang pada zaman sebelum tahun 1930 dulu berhasil menjadi produk unggulan Kabupaten Tangerang. Kang Kombor berharap Sabtu depan dapat menemui Nenek Amah karena tadi kebetulan sedang ada pengajian ibu-ibu di dua rumah sebelah rumah Nenek Ponah.

Apabila Nenek Ponah membuat loso, Pak Gonjing adalah pembuat kursi bambu dari bambu hitam (bambu wulung). Satu set kursi bambu yang terdiri dari satu kursi panjang, dua kursi pendek dan sebuah meja (semua dililit rotan) dihargai Rp350000,-. Boleh juga nanti Kang Kombor pesan kursi bambu dari Pak Gonjing yang selain dapat mebuat kursi juga dapat membuat saung/panggung dari bambu. Pak Gonjing baru saja selesai mengerjakan saung di Balaraja selama seminggu. Pak Gonjing dapat mengerjakan pesanan saung bambu denganbahan dari Pak Gonjing atau pun hanya diborong untuk mengerjakan saja.

Karena baru bertemu dengan Pak Mahmud maka Kang Kombor baru dapat menuliskan profil Pak Mahmud di TopiBambu. Profil Bu Ponah, Bu Amah dan Pak Ade akan menyusul setelah Kang Kombor berhasil bertemu dengan mereka.
Bantu saya dengan membagi artikel di atas ke media sosial:

Tentang Kang Kombor

Seorang blogger desa, alumni Perguruan Pirikan, pernah belajar Manajemen di FE UPH, pernah bekerja sebagai penjual (salesman), punya pengalaman seputar pengembangan bisnis (busines development) dan manajemen proyek (project management).

7 komentar

Click here for komentar
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Minggu, Maret 06, 2011 4:05:00 PM

manteb kang explorasiny. Jadi pengen tau nh kya apa y yg d sebut jurus bertanyany kang kombor, pengen belajar jg nh gmn crany menggali informasi n menyimpanny, trus cara kelolany :D

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Senin, Maret 07, 2011 12:20:00 PM

@suretianto:
Hahaha, jurus bertanyanya hanya menggunakan 5W1H: what, where, when, why dan how alias apa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Jumat, Maret 11, 2011 10:46:00 AM

sepedanya lumayan tuk bersantai ria di minggu pagi..

kunjungi jg bahan bacaan saya :
jurnal
ekonomi andalas

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Selasa, Juli 03, 2012 6:28:00 AM

WAH sangat membantu juga nie... kebetulan ge nyari tentang kerajinan bambu...(anyaman)...

sama-sama kunjungi juga ea kang kombor situs aye...
www.bantenbiz.com

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Kamis, Februari 26, 2015 9:19:00 AM

semangat terus kang,pantang mundur.untuk mengeposkan kehidupan sosial warga pedesaan.sy bangga tetangga sebelah rumah sy (pak.Mahmud) ada di blog akang..trims by.N'dar simpatigrafika.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Sabtu, Agustus 22, 2015 5:49:00 PM

Semua berita yang ada di website anda sangat menarik perhatian untuk di simak, salam sehat. . . !! Semoga beritanya dapat bermanfaat! share ya gan, thanks nih!!

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Sabtu, Oktober 24, 2015 10:52:00 AM

Nice info. Thanks for sharing.

Balas

Join This Site Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Silakan berkomentar dengan sopan