Beralih Moda Transportasi dari Bus ke Kereta Api

Sejak 1994 sampai awal 2014, untuk bepergian wira-wiri dari Jogja ke Tangerang atau Jogja ke Jakarta, saya lebih suka menggunakan bus sebagai moda transportasi utama. Pilihan moda transportasi bus karena alasan kepraktisan. Dengan bus, saya bisa turun di tempat yang mendekati tempat tujuan. Untuk berangkatnya pun tidak harus dari terminal karena bus menjemput penumpang di agen-agen yang menjadi perwakilannya. Alasan lain, untuk ke Jogja, dengan menumpang bus, saya bisa turun di pinggir jalan dan tinggal menyeberang jalan saya sudah tiba di kampung saya.

Sayangnya, makin ke sini, dari sisi waktu tempuh, bus sudah tidak bisa diandalkan lagi. Akhir Desember 2013 sampai awal 2014, untuk rute Jogja ke Jakarta Lebak Bulus, waktu tempuhnya bervariasi sangat besar. Saya pernah tiba pukul 5.30 pagi. Lalu pukul 7:30 pagi. Kemudian pukul 12 siang dan pernah pula pukul 16 sore. Yang terakhir saat ada banjir di Pasar Ciasem.

Bus Ramayana Jurusan Jogja - Lebak Bulus
Bus Ramayana Jurusan Jogja - Lebak Bulus


Waktu kedatangan di Jakarta yang tidak dapat diandalkan itu memaksa saya untuk berpindah moda transportasi dari bus ke kereta api. Sejak April 2014 sampai sekarang, kereta api menjadi moda transportasi utama saya untuk pergi pulang Jakarta - Jogja. Secara umum, waktu tempuh kereta api lebih dapat diandalkan daripada bus walaupun sebagai pertukarannya saya harus pergi ke stasiun untuk berangkat dan masih menyambung dengan moda transportasi lain sesampai di stasiun tujuan.

Sayangnya, ada satu hal yang perlu diperhatikan mengenai kereta api, yaitu harga tiketnya yang naik terus. Sejak April 2014 sampai saat ini, setidaknya saya sudah 2 kali mengalami kenaikan harga tiket yang cukup signifikan, yaitu pada September 2014 dan Februari 2015. Ke depan, mungkin saja harga tiket kereta api akan naik lagi. Memang naik kereta api saat ini sudah sangat jauh lebih nyaman dibanding beberapa tahun lalu. Khusus untuk kereta api, saya juga sudah naik sejak kecil untuk rute Jogja - Ciamis pulang pergi. Untuk jurusan Jogja - Jakarta, saya juga pernah naik pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Suasana naik kereta kelas ekonomi dan bisnis pada waktu itu sungguh tidak nyaman. Banyak pedagang, pengamen dan copet di dalam kereta api. Pengamen di dalam kereta api kasar-kasar, sering memaksa penumpang untuk memberikan receh kepada mereka. Dari sisi keamanan barang bawaan, tidak jarang penumpang kehilangan barang bawaan apabila meleng atau tertidur di dalam kereta.

Betul saat ini kereta api kelas ekonomi pun sudah nyaman. Akan tetapi, kalau harga tiket naik terus dan semakin mahal, selain kenyamanan mestinya PT. KAI juga memperhatikan waktu tempuh. Dus, selain sisi kenyamanan di dalam kereta, penumpang juga mendapat nilai lebih dari semakin singkatnya waktu tempuh kereta api. Di sanalah akhirnya harga tiket yang semakin mahal itu akan memberikan nilai kepada penumpang.

Mudah-mudahan setelah ruas tol Cikampek - Palimanan, Pejagan - Batang dan Batang - Semarang sudah tersambung, bus bisa kembali diandalkan lagi. Begitu pun saat Jakarta - Surabaya sudah penuh tersambung dengan jalan tol.
Bantu saya dengan membagi artikel di atas ke media sosial:

Tentang Kang Kombor

Seorang blogger desa, alumni Perguruan Pirikan, pernah belajar Manajemen di FE UPH, pernah bekerja sebagai penjual (salesman), punya pengalaman seputar pengembangan bisnis (busines development) dan manajemen proyek (project management).

1 komentar:

Click here for komentar
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Jumat, Oktober 23, 2015 10:30:00 AM

Nice article! Thanks for sharing.

Selamat asiapoker dapat PERTAMAX...! Silahkan antri di pom terdekat heheheh...
Balas

Join This Site Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Silakan berkomentar dengan sopan