Apakah Tepat Keputusan Blackberry Menggunakan Android?

"Perubahan selalu terjadi, satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri." Pemeo itu sulit untuk kita bantah. Di sekitar kita, hampir semua hal berubah. Dalam industri telekomunkasi pun, perubahan selalu terjadi. Selain perubahan, sebagaimana dalam kehidupan, persaingan selalu maujud pada pasar teknologi. Produk teknologi baru bisa menjadi penyempurna produk teknologi sebelumnya tetapi tidak jarang produk teknologi baru menjadi predator bagi produk teknologi yang lain. Dalam dunia yang penuh persaingan ada survival of the fittest, siapa yang paling mampu beradaptasi, dia yang akan selamat. Walaupun terlambat, kini kita melihat Blackberry sedang melakukan adaptasi yang menyakitkan. Blackberry terpaksa memproduksi Blackberry Android agar perusahaan itu bisa selamat dari ganasnya persaingan di pasar telepon genggam.

Kata siapa Blackberry OS itu buruk? Blackberry OS itu bagus. Sayangnya, pasar tidak menginginkan produk itu. Pasar saat ini didominasi oleh iOS dan Android. Blackberry yang mencoba bertahan dengan memproduksi perangkat genggam dengan sistem operasinya sendiri tidak mampu membujuk pasar untuk membeli produknya. Akhirnya, Blackberry memilih jalan untuk follow the leader di pasar ponsel. Blackberry memilih untuk memproduksi Blackberry yang menggunakan sistem operasi Android.

BlackBerry Priv (dailymail)
Kita tidak dapat menyalahkan Blackberry. Dalam dunia bisnis, hal seperti itu biasa. Kita tentu masih ingat dengan Nokia yang dulu menjadi pemimpin dalam pasar handphone. Karena tidak mau mengikuti trend dan mencoba membuat trend sendiri namun gagal, Nokia pun tenggelam. Blackberry tentu ingin menghindari kejadian yang sama terjadi. Oleh karena itu, Blackberry ingin mencoba peruntungan baru dengan memproduksi perangkat genggam dengan sistem operasi Android agar bisa tetap bertahan di pasar yang ganas. Apakah keputusan Blackberry itu tepat? Saat ini kita belum dapat mengatakan apakah keputusan itu tepat atau tidak tepat. Yang dapat kita lakukan hanyalah memaklumi keputusan itu.

Tepat atau tidaknya keputusan Blackberry bukan semata-mata dapat dinilai dari keputusannya untuk membenamkan Android pada perangkat buatannya. Masih ada variabel lain yang perlu diuji. Misalnya, segmen pasar yang dia pilih untuk disasar. Melihat Blackberry Priv yang diproduksinya yang dibanderol dengan harga 580 Poundsterling atau sekitar Rp12.127.445,- dengan kurs hari ini, Blackberry memilih segmen kelas atas. Benarkah posisi Blackberry kuat di segmen itu? Di Indonesia saat ini Blackberry justru banyak dipakai oleh kelas entry level karena -- jujur saja -- perangkat Blackberry bekas itu murah. Apakah hal itu lantas berarti bahwa Blackberry akan sukses di Indonesia apabila membuat produk yang menyasar kelas low end di Indonesia? Belum tentu juga. Blackberry kuno disukai para entry level karena ada paket unlimited dari operator. Dengan memakai BB OS10 atau Android, paket Blackberry unlimited tidak ada lagi. Sudah begitu, operator yang menawarkan paket data unlimited pun bisa dikatakan sudah tidak ada lagi. Simalakama.
Bantu saya dengan membagi artikel di atas ke media sosial:

Tentang Kang Kombor

Seorang blogger desa, alumni Perguruan Pirikan, pernah belajar Manajemen di FE UPH, pernah bekerja sebagai penjual (salesman), punya pengalaman seputar pengembangan bisnis (busines development) dan manajemen proyek (project management).

5 komentar

Click here for komentar
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Oktober 21, 2015 2:03:00 PM

Siapa yng tdk mengikuti trend pasar dan tidak kuat melawan trend..terpaksa mundur teratur iya...itu banyak dialami perusahaan...kecuali perusahaan tsb sdh punya segmen pasar sendiri dan tetap mempertahankan konvensionalitas nya... thanks..salam kenal

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Jumat, Oktober 23, 2015 8:21:00 AM

Nice info. Thanks for sharing.

Asia Poker99 merupakan agen Poker Terpercaya di Indonesia,
Poker Gampang Menang serta Poker Tanpa Bot akan membuat Anda betah untuk bermain di AsiaPoker 99!

Daftar, mainkan dan menang!

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Sabtu, Oktober 24, 2015 11:17:00 AM

belum loncing ponsel blackberry yang pake android
menunggu informasi lagi kayaknya :D

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, November 11, 2015 8:47:00 PM

Yang dijual di amazon kemarin sudah sold out.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, November 11, 2015 8:50:00 PM

Betul, Pak Agusman. Kita bisa melihat Nokia yang dulu menjadi market leader kini hanya menjadi penonton karena tidak merespon perubahan yang terjadi di pasar dengan tepat. Kembalinya Nokia harus kita tunggu sampai 2016 karena Nokia baru dapat memproduksi Nokia Android setelah kontrak eksklusif dengan Microsoft berakhir.

Salam kenal. Terimakasih sudah mampir.

Balas

Join This Site Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Silakan berkomentar dengan sopan