Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 16, 2017

Pantai Glagah Indah

Ombak Tsunami Pantai Glagah Indah

Entah mengapa pantai-pantai pesisir Selatan Pulau Jawa yang sering Kang Kombor kunjungi adalah pantai-pantai di kawasan Kabupaten Bantul seperti Pantai Parangtritis dan pantai-pantai di kawasan Kabupaten Gunung Kidul seperti Pantai Krakal, Pantai Kukup, Pantai Baron dan Pantai Indrayanti. Pantai di kawasan Kabupaten Kulon Progo belum pernah Kang Kombor kunjungi. Karenanya, pada saat ada kesempatan, Kang Kombor menyempatkan diri untuk mengunjungi Pantai Glagah Indah di Kulon Progo.

Ternyata Pantai Glagah Indah tidak kalah menarik dibandingkan dengan Pantai Parangtritis. Bahkan, Pantai Glagah Indah lebih kaya wahana wisata dibandingkan Pantai Parangtritis. Di Pantai Glagah ada beberapa laguna yang dikelilingi oleh rimbun pepohonan sehingga nyaman untuk bercengkerama di sekitarnya. Laguna itu disertai dengan perahu-perahu yang dapat ditumpangi oleh pengunjung. Cukup dengan membayar lima ribu Rupiah, pengunjung bisa naik perahu berkeliling laguna. Pantai Glagah Indah juga memiliki pantai berpasir hitam yang lebar dan landai. Pantai itu sangat panjang membentang dari Timur ke Barat. Selain itu, Pantai Glagah Indah juga memiliki tembok beton pemecah ombak. Yang terakhir ini menjadi buruan pecinta foto di lokasi wisata karena tembok pemecah omba itu akan memberikan latar belakang foto yang indah berupa ombak yang memecah setelah menghantam tembok pemecah ombak.


Ombak yang memecah setelah menghantam tembok pemecah ombak itu terkenal dengan sebutan ombak tsunami. Ombak tsunami itu lah yang sering diburu untuk diabadikan oleh pengunjung. Untuk ilustrasi tentang ombak tsunami dan Pantai Glagah Indah, silakan saksikan dua video berikut ini.

Bagaimana? Apakah tertarik untuk berkunjung ke Pantai Glagah Indah?

Jumat, Mei 05, 2017

Mengunjungi 3 Bangunan Bersejarah di Bekasi, Saksi Bisu Perjuangan Para Pahlawan Kemerdekaan

Sebagai salah satu daerah penyangga ibu kota, Bekasi kini telah menjelma menjadi kawasan hunian kaum urban. Letaknya yang berbatasan langsung dengan wilayah DKI Jakarta juga mengakibatkan terjadinya akulturasi budaya yang cukup intens di Bekasi, yaitu antara budaya Betawi dan budaya Sunda.

Hal ini sangat menarik untuk ditelusuri ulang demi mengingat kembali peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di Bekasi beserta orang-orang yang berperan di dalamnya. Oleh karena itu, jika Anda kebetulan sedang berkunjung ke Bekasi, jangan lewatkan 3 objek wisata bersejarah berikut.

Saung Ranggon

Objek wisata sejarah Saung Ranggon bisa ditemukan di Kampung Cikedokan, Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat. Meskipun agak jauh dari kawasan perkotaan, tempat ini masih bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan umum.

Foto Saung Ranggon

(sumber : berita.rahmateffendi.com)

Menurut cerita, Saung Ranggon telah dibangun pada abad ke-16 oleh putra Pangeran Jayakarta, seorang tokoh Betawi. Meskipun demikian, bangunan ini baru pada 1821 ditemukan oleh Raden Abbas. Bisa dibilang, Saung Ranggon adalah bagian dari perlawanan masyarakat Bekasi terhadap pemerintahan Belanda pada masa itu.

Saung Ranggon berukuran 7,6 meter x 7,2 meter dan dibangun di lahan seluas 500 meter persegi. Dari permukaan tanah, tingginya hanya sekitar 2,5 meter. Bentuknya seperti rumah panggung dan ada 7 anak tangga yang terletak di depan pintu utama. Sementara itu, atapnya berbentuk Julang Ngapak, yaitu merupakan dua bidang miring.

Kini, Saung Ranggon menjadi tempat untuk menyimpan berbagai benda pusaka. Bukan hanya masyarakat setempat, banyak juga pengunjung yang datang dari luar kota. Salah satu daya tariknya adalah acara hajat budaya berupa tradisi mencuci benda pusaka yang dilengkapi dengan hiburan Jaipongan dan wayang kulit di halaman rumah tradisional ini.

Gedong Papak

Anda bisa menemukan Gedong Papak di Jl. Ir. H. Juanda No. 100, Margahayu, Bekasi Timur. Bangunan yang didirikan pada 1930 ini memiliki luas 2.500 meter persegi dan dibangun di lahan seluas 1,5 hektare.

foto gedong papak

(sumber : panduanwisata.id)

Ciri khas Gedong Papak terlihat dari namanya. Gedong berarti rumah, sedangkan Papak dimaknai sebagai rumah yang beratap rata dan tidak menggunakan genteng. Awalnya, Gedong Papak adalah milik Lee Guan Chin, seorang saudagar Tionghoa pada masa itu. Untuk mendukung gerakan revolusi di Bekasi, Lee Guan Chin dengan sukarela menyerahkan bangunan ini menjadi markas bagi para pejuang Indonesia.

Setelah masa perang kemerdekaan selesai, Gedong Papak dialihfungsikan menjadi rumah dinas wali kota, tepatnya pada 1982. Namun, pada 2004, bangunan ini mulai dibuka untuk umum. Lantai dasar biasa digunakan sebagai musala dan berbagai kegiatan keagamaan, sedangkan lantai dua adalah Kantor Komisi Pemberantasan AIDS Bekasi.

Gedung Juang 45 Tambun

Gedung yang berusia lebih dari seratus tahun ini dibangun di area seluas 17.835 meter persegi. Terletak di Jl. Sultan Hasanuddin No.5, Tambun Selatan, Gedung Juang Tambun ternyata menyimpan berbagai kisah kepahlawanan pada masa penjajahan Belanda. Konon, tempat ini dahulu menjadi lokasi perundingan antara penjajah dan pejuang untuk tukar tawanan.

foto gedung juang 45 tambun

(sumber : karawangbekasiekspres.com)

Awalnya, gedung yang dahulu dikenal dengan nama Gedung Tinggi ini dibangun oleh seorang Tionghoa yang bernama Kow Tjing Kie. Pembangunan diperkirakan selesai pada 1910. Kemudian, bangunan ini mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan, yaitu Belanda, Jepang, dan para pejuang Bekasi.

Jika Anda berasal dari luar kota dan tertarik untuk mengunjungi 3 objek wisata bersejarah ini, ada baiknya Anda memesan penginapan terlebih dahulu. Ada banyak hotel murah di Bekasi yang bisa Anda temukan dengan menggunakan aplikasi Airy Rooms di smartphone Anda.

airy rooms

Selain proses pemesanan sangat gampang, ada 7 jaminan kenyamanan yang ditawarkan, antara lain shower air hangat dan perlengkapan mandi, tempat tidur bersih, air minum dan WiFi gratis, serta AC dan TV layar datar.

Anda dapat memesan kamar Airy Rooms melalui website resmi www.airyrooms.com atau aplikasi yang dapat anda unduh dari Play Store atau Apps Store. Pembayaran juga sangat mudah, dapat melalui transfer bank atau kartu kredit.

Senin, Maret 06, 2017

Pulau Umang

Waktu jalan-jalan menyusuri pesisir Selatan Banten dulu, Triono dan Kang Kombor sudah sampai di bibir Pulau Umang. Saat itu sudah sekitar pukul 19 malam. Kami hanya memandang dari kejauhan dan akhirnya putar balik dan menuju Pantai Pasir Putih. Tidak disangka-sangka, ada kegiatan kantor di Pulau Umang sehingga Kang Kombor bisa menyeberang ke Pulau Umang yang terletak di wilayah Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten itu.

Tiga batang pohon bakau di Pulau Umang

Pulau Umang bersebelahan dengan Pulau Oar. Menurut yang pernah berkunjung ke sana, pemandangan di Pulau Oar jauh lebih bagus daripada Pulau Umang. Sayangnya, karena cuaca kurang bersahabat, kami tidak menyeberang ke Pulau Oar.


Tak banyak yang dapat Kang Kombor tuliskan mengenai perjalanan ke Pulau Umang itu. Sebagai gantinya, silakan saksikan video-video kegiatan di Pulau Umang di bawah ini.

Apakah tertarik untuk berkunjung ke Pulau Umang? Jangan sampai tidak menyeberang ke Pulau Oar seperti kami. Pilihlah musim kemarau kalau mau ke sana.

Jumat, Januari 27, 2017

Melihat Kaki Merapi dan Merbabu Bertaut Mesra dari Ketep Pass

Pulang dari jalan-jalan di Bandungan kami memilih rute melewati Ketep Pass karena kami ingin melihat dari dekat pertemuan antara kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

melihat kaki merapi merbabu bertautan mesra dari ketep pass

Sudah sering kami dengar nama Ketep Pass tetapi belum pernah kami ke sana. Kebetulan kami jalan-jalan ke Bandungan, pulangnya kami via Ketep Pass agar oleh Ketep Pass kami dicatat bahwa kami pernah ke sana, hehehe

Dari Bandungan kami memilih rute ke Bawen dulu lalu menyusuri Jalan Raya Bawen – Salatiga. Selanjutnya kami belok kanan ke arah Kopeng. Dus, sebelum ke Ketep Pass kami sebenarnya melewati Kopeng juga tetapi kami tidak mampir.


Di jalan Kopeng – Magelang kami belok kiri di pertigaan yang ada penunjuk arah ke Ketep Pass. Nggak tahu apa nama daerahnya. Pokoknya ada petunjuk Ketep Pass di sana, hahaha.

Di jalan menuju ke Ketep itu kami melewati wilayah Desa Banyuroto yang terkenal dengan wisata petik sendiri strawberry. Kami pun mampir ke sana walaupun ternyata strawbery sudah habis dipetiki pengunjung-pengunjung sebelumnya. Karena sedang musim liburan anak sekolah jadi wisata petik sendiri strawberry itu banyak dikunjungi wisatawan.

wisata petik sendiri strawberry banyuroto magelang

Sekitar jam sebelas siang kami sampai di Ketep Pass. Suasana ramai sekali. Parkiran dari arah Kopeng penuh. Parkiran lokasi wisata juga penuh. Kami parkir sekitar 200 m dari Ketep Pass ke arah Blabak.

GPL, kami segera beli karcis masuk seharga Rp12.500,00 per orang dan mulai menyusuri Ketep Pass. Di sana ada Ketep Volcano Theatre dan Ketep Volcano Centre selain tempat-tempat untuk menikmati pemandangan ke arah kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Di bawah ada juga kios-kios pedagang buat yang ingin jajan.

Kalau pengunjung ingin melihat lebih jelas ke arah kaki, punggung atau puncak Merapi atau Merbabu, ada teropong yang disewakan di sana. Kita bisa menyewa teropong dengan uang sewa Rp5.000,00. Sepuasnya.

Selesai menikmati pemandangan kaki Merapi dan Merbabu kami masuk ke Ketep Volcano Centre. Banyak informasi kegunung apian terutama Gunung Merapi di dalamnya. Silakan lihat video di bawah untuk melihat isi Ketep Volcano Centre. Di atas Ketep Volcano Centre ada kantin di mana kita bisa minum dan makan sambil menikmati pemandangan ke arah Merapi dan Merbabu.

Sayang kami tidak masuk ke Ketep Volcano Theatre sehingga kami tidak dapat menceritakan isinya. Silakan cari tahu sendiri dengan berkunjung ke Ketep Pass ya!

Sabtu, Januari 21, 2017

Trip Singkat ke Bandungan

Jadi ceritanya pada 25 – 26 Desember 2016 yang lalu Kang Kombor sekeluarga jalan-jalan ke Bandungan. Kami pengin nginep di Bandungan yang katanya dingin itu. Ternyata, dingin kalau di atas banget. Kalau cuma di bawah ya gak bisa juga dibilang dingin.


Kami berangkat pada Minggu pagi, 25 Desember 2016. Tujuan utama adalah The Bandungan Hotel & Convention yang sudah Kang Kombor pesan sebelumnya via PegiPegi.com. Kang Kombor baru cari hotel pada 24 Desember 2016 untuk dipakai 25 Desember 2016. Via situs pesan kamar hotel yang lain tidak ada kamar tersedia di Bandungan untuk tanggal itu. Eh ternyata buka PegiPegi.com malah ada kamar.

Pukul 11:30 WIB kami sudah tiba di hotel. Gak pakai nunggu lama-lama kami pun segera check in. Untung saja bisa langsung check in pada waktu itu, gak pakai nunggu kamar disiapkan.


Setelah meletakkan tas dan salat dluhur di kamar, kami keluar mencari makan siang. Rencananya kami akan ke Pondok Alam Pemancingan Bang Kohar yang kebetulan menurut 4sq lokasinya paling dekat dengan hotel. Saat kami ke sana, TKP sangat penuh sehingga kami memutuskan untuk mencari tempat lain.


Tidak jauh dari Pondok Alam Pemancingan Bang Kohar ada Pondok Pemancingan Wijaya. Kami pun memutuskan untuk makan siang di sana. Suasana Pemancingan Wijaya bisa dilihat pada video di bawah ini.



Selesai makan, kami melanjutkan jalan-jalan sampai sore. Tujuan kali ini adalah Pondok Kopi Sidomukti yang letaknya di atas lokasi wisata Umbul Sidomukti. Keluar dari parkiran Pemancingan Wijaya kami ke kanan lalu di pertigaan menuju Umbul Sidomukti kami ke kiri. Ternyata, untuk menuju ke Pondok Kopi Sidomukti itu jalan menanjak terus. Kalau mau ke Umbul Sidomukti atau Pondok Kopi Sidomukti, pastikan kendaraan roda dua atau roda empat dalam keadaan prima. Tanjakannya curam dan ada yang panjang.


Sampai di Pondok Kopi Sidomukti suasana begitu ramai. Banyak pengunjung yang menghabiskan waktu di Pondok Kopi Sidomukti. Kami tidak kebagian tempat di Pondok Kopi dan hanya berjalan-jalan saja di sekitar Pondok Kopi Sidomukti.



Kabut yang sudah turun membuat pemandangan ke bawah dari Pondok Sidomukti tidak bisa lepas. Jarak pandang tidak jauh sehingga pemandangan indah ke arah kaki gunung tidak kami dapatkan. Sekitar jam lima sore kami pun turun dan kembali ke hotel.


Malam harinya kami tidak keluar jalan-jalan. Bahkan makan malam pun kami hanya pesan dari restoran hotel.


Paginya, selesai salat subuh, kami menyempatkan diri untuk menikmati udara pagi di sekitar hotel sambil menanti matahari terbit. Alhamdulillaah cuaca tidak hujan sehingga kami bisa menanti dan melihat matahari terbit.



Kami keluar dari hotel setelah sarapan. Memang kami sengaja tidak check out tengah hari karena kami akan pulang ke Medari via Ketep Pass.

Kamis, November 24, 2016

Perjalanan Sehari ke Cirebon, Sebuah Ziarah

Kang Kombor senang melakukan ziarah. Akan tetapi, berbeda dengan yang lain yang sering berziarah ke petilasan-petilasan, Kang Kombor memilih berziarah ke famili atau kolega yang masih hidup.

Minggu lalu, Kang Kombor berziarah ke Cirebon. Menziarahi kawan semasa SMP dulu, yang sejak 1996 tinggal di Cirebon.

Kang Kombor berangkat dari Jakarta Sabtu pagi (19/11) pukul sembilan, bersama seorang kawan SMP juga.

Di tengah-tengah isu kebhinnekaan yang sedang hangat, Kang Kombor bisa pamer kebhinnekaan juga. Yang berangkat bareng Kang Kombor beragama Katholik, yang akan Kang Kombor ziarahi juga beragama Katholik. Kang Kombor sendiri muslim. Nggak ada masalah tuh dengan kebhinnekaan dan toleransi di antara kami…

Kang Kombor jemput teman dari Jakarta, namanya Tarto, di Pintu Tol Joglo. Dari situ kami langsung masuk Tol Lingkar Luar, Tol Cikampek, lalu disambung Tol Cipali dan Tol Palikanci. Di Tol Palikanci kami keluar di Pintu Tol Ciperna. Kawan yang kami ziarahi namanya Anton.


Sekitar jam dua belas kurang seperempat kami sudah keluar di Pintu Tol Ciperna. Anton bilang akan menunggu di Holcim. Dari exit Ciperna kami belok kiri dan menyusuri jalan sampai ke Harjamukti dan tidak menemukan Holcim. Ternyata, yang dimaksud adalah Indocement! Tidak jauh dari perempatan setelah exit Ciperna itu memang ada Indocement. Dus, kami sudah kejauhan sampai ke Harjamukti dan harus putar balik. Hahaha… Anton pret banget, wong Indocement dibilang Holcim.

“Ton, itu kan Indocement. Kok Kamu bilang Holcim?”

“Dulu Holcim jee…”

Dari titik penjemputan kami langsung ke rumah Anton di Perumahan Permata Harjamukti. Di rumah Anton kami ngobrol ngalor-ngidul mulai dari omongan seputar kabar dan disambung kelakar-kelakar nggak jelas.

Waktunya makan siang, istri Anton membelikan empal gentong. Alhamdulillah disuguhi menu khas Cirebon. Kami pun makan siang bersama dengan lahap.

Selesai makan, obrolan ngalor-ngidul dilanjut sambil udud. Kami ngobrol gayeng sampai istri Anton mengajak ke Goa Sunyaragi. Ceritanya, Sabtu sore itu anak kedua Anton, perempuan, ada latihan menari di Goa Sunyaragi. Mumpung kami jauh-jauh dari Jakarta ke Cirebon, daripada hanya ngobrol di rumah, kami diajak juga ke Goa Sunyaragi. Kami setuju dan kamipun berangkat bersama-sama ke Goa Sunyaragi.

Bukti sudah sampai Goa Sunyaragi

Pada gambar di atas, kika adalah Kombor, Anton dan Tarto. Kang Kombor dan Tarto harus mengamankan barang bukti bahwa kami sudah sampai di Goa Sunyaragi. Kalau Anton sih tiap minggu dia ke situs peninggalan Kraton Kasepuhan Cirebon yang dibangun pada 1700-an itu.

Goa Sunyaragi, mungkin maksudnya sunyi raga ya, adalah bangunan yang berisi banyak gua buatan. Yang unik dari situs itu adalah adanya penggunaan batu karang dari laut Selatan Jawa yang dipergunakan untuk membuat bangunan itu.

Daripada sulit untuk mendeskripsikan dengan kata-kata, silakan Kawan-kawan tonton saja video di bawah ini ya!

Selesai dari Goa Sunyaragi kami menuju toko oleh-oleh. Triono -- kawan Kang Kombor yang berdua Kang Kombor mbambung menyusuri Pesisir Selatan Banten, Garut Selatan dan Pelabuhan Ratu – pesan tape ketan Kuningan. Pemandu wisata kami, istri Anton, membawa kami ke Jl. Rajawali. Di sana, Kang Kombor beli 2 ember tape ketan Kuningan dan sebotol sirup Tjampolay rasa jeniper. Tarto entah beli apa dia, aku ora urusan, hahaha!

Nah, untuk melengkapi perjalanan sehari ke Cirebon itu, kami pun makan nasi jamblang. Pemandu Wisata membawa ke Nasi Jamblang Yayu Na’ah. Kang Kombor makan nasi 2, blekutak dan pare isi. Tentu saja dengan sambal khas nasi jamblangnya.

Blekutak itu seperti ikan sotong tapi ada cangkangnya. Kang Kombor baru pertama kali nemuin binatang itu pas makan nasi jamblang itu. Yang sering adalah ikan sotong dan cumi-cumi.

Nasi Jamblang Yayu Na'ah

Selesai makan nasi jamblang kami kembali ke rumah Anton untuk nge-drop keluarga Anton. Tanpa mampir lagi, Kang Kombor dan Tarto langsung meluncur kembali ke Jakarta.

Lumayan lah perjalanan sehari ke Cirebon untuk ziarah ke tempat Anton itu. Menziarahi yang masih hidup, kita akan menikmati kehidupan.

Senin, Oktober 10, 2016

Jalan-Jalan ke Pelabuhan Ratu dan Pantai Karanghawu Sukabumi

Wisata Kemerdekaan, jalan-jalan ke Pelabuhan Ratu melihat aktivitas nelayan dan pembeli ikan di Tempat Pelelangan Ikan dan ke Pantai Karanghawu di pesisir Selatan Kabupaten Sukabumi.


17 Agustus 2016 yang lalu, Kang Kombor bersama Triono -- yang pernah bersama Kang Kombor jalan-jalan menyusuri Pesisir Selatan Banten dan jalan-jalan ke Garut -- jalan-jalan ke Sukabumi. Lokasi yang menjadi target kunjungan adalah Pelabuhan Ratu dan Pantai Karanghawu. Kami berangkat dari Lebak Bulus sekitar pukul 23:30 malam pada 16 Agustus 2016 dan langsung menuju Sukabumi melalui Tol Jagorawi. Pukul 04:00 WIB sebelum subuh pada 17 Agustus 2016 kami sudah sampai di Pelabuhan Ratu.

Selesai subuh berjamaah di masjid yang terletak di area TPI Pelabuhan Ratu, Kang Kombor pun mengabadikan suasana subuh di pelabuhan nelayan dan sekaligus tempat pelelangan ikan itu. Berikut video suasana subuh di Pelabuhan Ratu yang Kang Kombor rekam.

Sekitar pukul enam pagi mulai ada perahu nelayan yang kembali dari melaut. Kang Kombor pun merekam beberapa perahu nelayan yang kembali dari melaut dan langsung disambut oleh para pembeli ikan. Silakan simak videonya di bawah ini.

Kira-kira pukul delapan pagi, Kang Kombor dan Triono bergeser ke Pantai Karanghawu, pantai wisata di Pesisir Selatan Sukabumi yang landai dan berpasir hitam, berbeda dengan Pantai Sawarna yang berpasir putih. Pantai Karanghawu ini lumayan ramai dikunjungi. Hamparan pasir hitam yang lembut dengan kemiringan yang landai membuat Pantai Karanghawu aman untuk bermain air. Di bagian Barat ada hamparan bebatuan yang sering dipergunakan oleh pengunjung untuk berfoto-foto. Di bawah ini suasana Pantai Karanghawu yang Kang Kombor rekam.

Kang Kombor tidak banyak menuliskan kisah perjalanan ke Sukabumi seperti saat jalan-jalan menyusuri Pantai Selatan Banten. Sebagai gantinya, tiga video di atas yang mengisahkan.