Breaking News
Loading...
Monday, January 31, 2011

Perjalanan Ke Dubai – Hari Pertama

3:04:00 PM

Alhamdulillaah,pada 24 – 27 Januari 2011 yang lalu Kang Kombor berkesempatan untuk melakukan perjalanan ke Dubai. Sebuah perjalanan dinas, bukan perjalanan untuk berlibur. Akan tetapi, tentu saja di sela-sela kegiatan di sana Kang Kombor menyempatkan diri untuk dapat melihat-lihat kota Dubai yang sangat modern itu.

Kang Kombor berangkat melalui bandara Soekarno – Hatta pada 24 Januari 2011 dengan pesawat Emirates EK357 pukul 17:25 WIB bersama Pak Egy. Apabila Kawan-Kawan ingat caleg DPR RI 2009 – 2014 yang memiliki baliho dengan foto dirinya berpakaian Superman, beliaulah orangnya. Pak Egy adalah salah satu pemilik perusahaan tempat Kang Kombor bekerja.

Kang Kombor pergi ke Dubai dalam rangka mengunjungi pameran kesehatan Arab yang dinamai ARAB HEALTH sekalian mengadakan pertemuan dengan mitra bisnis dari Jerman.

Kang Kombor akan bercerita mengenai perjalanan Kang Kombor ke Dubai. Ini adalah perjalanan pertama Kang Kombor ke Luar Negeri. Kang Kombor pernah diajak ke Malaysia dan diminta ke Singapura tetapi Kang Kombor menolak. Kang Kombor ingin perjalanan pertama Kang Kombor ke luar negeri – apabila ada kesempatannya – haruslah lebih jauh dari jarak Jakarta – Banda Aceh atau Jakarta – Jayapura. Eh, alhamdulillaah akhirnya kesempatan itu tiba, yaitu perjalanan ke Dubai ini.

Baillah, mari kita mulai cerita dengan tempat menginap. Kang Kombor dan Pak Egy menginap di Gulf Oasis Hotel Apartments. Hotel ini terletak di Tecom Area, sebuah area baru yang sedang dibangun di sebelah selatan Kota Dubai. Yang banyak dibangun di area ini adalah gedung hotel apartemen dan gedung perkantoran. Gulf Oasis tempat menginap Kang Kombor adalah sebuah hotel apartemen. Modelnya seperti apartemen, ada kamar dengan 2 ranjang, 2 kamar mandi, sebuah dapur lengkap dengan peralatan dapurnya yang serba elektronik dan sebuah ruangan luas untuk meja makan dan sofa yang menghadap ke sebuah televisi LCD berukuran 42 inci. Karena modelnya apartemen, tidak ada layanan makanan sama sekali. Untungnya, di dekat hotel itu ada sebuah gedung yang di lantai dasarnya terdapat sebuah gerai Carrefour sehingga kami dapat berbelanja di sana.

Gulf Oasis Hotel Apartments in Tecom Area Dubai

Kang Kombor cek masuk di Gulf Oasis Hotel Apartments pada pukul 00:15 waktu setempat atau kira-kira pukul 03:30 WIB. Kami tiba di Dubai International Airport pada pukul 22:30 waktu Dubai setelah perjalanan udara selama kurang lebih 8,5 jam. Dari Dubai International Airport kami menuju ke MINC Al Barsha Hotel Apartments karena berdasarkan konfirmasi dari agen perjalanan Mutiara Travel kami dipesankan kamar di hotel tersebut. Sesampai di MINC Al Barsha Hotel Apartments ternyata tidak ada pesanan kamar atas nama kami. Kami meyakinkan bahwa sudah ada konfirmasi dari pihak hotel dan ada nomor konfirmasinya. Resepsionis hotel kemudian menelpon ke Gulf Oasis Hotel Apartments yang masih satu grup dengan MINC Al Barsha Hotel Apartments apakan ada pesanan atas nama kami. Ternyata ada sehingga kami kemudian meluncur ke Gulf Oasis Hotel Apartments.

Pada 25 Januari 2011 pagi kami berjalan-jalan di sekitar hotel untuk menikmati udara pagi Tecom Area, mengenal lingkungan sekitar hotel dan mencari tempat sarapan. Pada jarak sekitar 150 meter dari hotel ada sebuah gedung yang di lantai dasarnya terdapat gerai restoran cepat saji SUBWAY. Kami pun masuk ke sana untuk memesan sarapan. Menu yang tersedia adalah hot dog dengan berbagai macam variasi isi. Kami pesan hot dog dengan isi daging kalkun asap dicampur dengan telur ayam. Walau pun rasanya tidak cocok dengan lidah, Kang Kombor tetap menghabiskan hot dog tersebut daripada kelaparan :)

Restoran cepat saji SUBWAY di Tecom Area Dubai

Dari SUBWAY, kami menuju ke Carrefour yang berada di lantai dasar gedung yang berada di sebelah gedung tempat SUBWAY berada. Harga makanan dan bahan pangan di UAE sungguh luar biasa. Bersyukurlah kita di Indonesia yang harga bahan pangannya tidak setinggi di Dubai walaupun akhir-akhir ini harganya semakin tinggi dan mencekik leher kita karena daya beli kita yang tidak naik. Yang menarik, di Carrefour di UAE ini dijual juga ubi jalar dan ubi kayu. Harganya jauh sekali apabila dibandingkan dengan harga ubi jalar dan ubi kayu di Indonesia.

ubi jalar dan ubi kayu di carrefour dubai

Kira-kira pukul 10:00 waktu Dubai Kami berangkat ke WTC Dubai tempat ARAB HEALTH dilangsungkan. Di sana kami melihat-lihat pameran produk-produk kesehatan mulai dari suplemen nutrisi sampai alat-alat kedokteran yang canggih. Kang Kombor trenyuh sekali melihat Malaysia memiliki paviliun sendiri dengan beberapa perusahaan produk kesehatan yang membuka booth sedangkan dari Indonesia tidak ada paviliun sendiri. Menurut seorang kawan yang kami temui di lokasi pameran, dari Indonesia hanya ada 2 perusahaan yang ikut pameran. Salah satunya produsen ranjang rumah sakit. Sedih mendengar itu karena Malaysia dan Singapura memiliki paviliun sendiri.

Bagaimana tidak sedih? Bayangkan saja, hampir semua alat kesehatan kita impor. Kantong darah kita impor. Kantong infus dan cairan infus sebagian besar impor. Selang dialisis kita impor. Jarum suntik kita impor. Kantong urin jangan-jangan impor juga. Mengenaskan. Pemerintah kita melalui Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perindustrian tidak memikirkan agar kita memiliki industri kesehatan sendiri. Okelah untuk alat-alat kedokteran yang berteknologi canggih kita impor. Akan tetapi, untuk barang habis pakai di dunia kesehatan masa kita masih impor terus. Apabila terjadi perang di sekitar wilayah kita sehingga perdagangan internasional terhenti apa kita tidak memerlukan barang-barang habis pakai tersebut? Jujur saja, Kang Kombor tidak mengerti apa yang ada di dalam benak pemerintah kita. Minyak untuk membuat plastik kita punya. Karet kita punya. pasir besi, aluminium, timah, nikel, dan lain-lain kita punya. Kok tidak dipikirkan untuk mendirikan pabrik-pabrik untuk memproduksi barang-barang kesehatan yang habis pakai tersebut? Apakah karena mereka mendapatkan bagian dari diimpornya barang-barang tersebut? Sungguh menyedihkan apabila hanya karena itu mereka membuat bangsa kita selalu bergantung pada impor.

ARAB HEALTH

Baiklah mari kita teruskan. Di hari pertama di Dubai, Kang Kombor ke WTC Dubai kemudian kembali ke hotel dan sorenya kembali ke WTC Dubai karena pada malam hari ada rapat dengan mitra dari Jerman dilanjut dengan makan malam. Rapat dilaksanakan di Business Centre Fairmont Hotel sedangkan makan malam di restoran yang juga terdapat di Fairmont Hotel. Pada gambar di bawah ini, Fairmont Hotel adalah gedung yang berada paling kanan.

fairmont hotel dubai

Sebelum berangkat ke Dubai kami sudah mendaftar untuk hadir di ARAB HEALTH secara daring. Begitu sampai meja registrasi kami memberikan nomer referensi konfirmasi yang kami dapatkan saat melakukan pendaftaran online. Tidak pakai lama kartu pengunjung kami pun dicetak. Semuanya serba komputer dan pelayanannya cepat.

Pada kartu pengunjung terdapat kode bar (barcode) yang dipergunakan untuk mencatat pergerakan pengunjung. Setiap akan memasuki ruang pameran, kode bar tersebut akan dipindai oleh petugas. Untuk informasi saja, ARAB HEALTH dilaksanakan di WTC Dubai dan menggunakan semua hall yang terdapat di sana. Dalam satu hal terdiri dari beberapa paviliun berdasarkan negara. Booth peserta pameran berada di paviliun negaranya masing-masing. Nah, karena banyak hall yang perlu kami masuki maka setiap masuk hall kartu kami dipindai oleh petugas.

Kami berputar-putar dulu di beberapa paviliun untuk melihat-lihat produk yang dipamerkan. Berburu brosur dan souvenirlah… hehehe. Kemudian sekitar pukul 12 waktu setempat kami ke paviliun Jerman untuk mencari mitra kami yang dari Jerman itu. Kami berbincang-bincang sebentar kemudian kami keluar dari lokasi pameran dan kembali ke hotel.

Sore harinya sekitar pukul 16:30 kami kembali ke WTC Dubai. Kami melihat-lihat pameran kembali dan pada pukul 18:00 kami berangkat ke Fairmont Hotel dengan berjalan kaki. Kebetulan lokasi Fairmont Hotel tidak jauh dari WTC Dubai. Dengan berjalan sekitar 10 menit kami sudah tiba di Fairmont Hotel. Pertemuan yang dilanjutkan makan malam dimulai pukul 19:00 sehingga untuk membunuh waktu kami menunggu di lobi hotel.

Sebagai orang Indonesia, kami menggunakan batik sebagai pakaian dalam pertemuan dan makan malam tersebut. Hal itu kami sengaja untuk memperkenalkan bahwa batik adalah milik Indonesia.

foto dari depan hotel fairmont dengan latar belakang wtc dubai

Selesai dari pertemuan dan makan malam kami sempat meminta sopir taksi untuk mengantarkan kami ke shopping center yang ada di Dubai. Kami diantarkan ke Kharami Market. Setelah melihat-lihat sebentar kami kemudian pergi dari sana dan memutuskan untuk kembali ke hotel saja untuk istirahat. Kharami Market itu tidak menjual souvenir melainkan menjual barang-barang kebutuhan yang umum. Barang-barang yang bisa kita dapatkan di mana pun pusat perbelanjaan di Indonesia.

Oh ya, pada hari pertama ini kami memutuskan untuk membeli sim card untuk perangkat Blackberry kami supaya bisa tetap dapat menggunakan semua fasilitas Blackberry Internet Service tanpa roaming internasional dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Operator seluler yang kami beli sim card-nya adalah etisalat. Sepertinya hanya ada dua operator seluler di Dubai yaitu Etisalat dan du. Kemungkinan etisalat yang lebih besar di antara keduanya.

Saat melakukan aplikasi nomor etisalat, kami membayar 75 dirham dengan pulsa gratis sebesar 25 dirham. Artinya, sim card di sana masih dihargai 50 dirham. Kurs 1 dirham sekitar Rp2800,- sehingga harga sim card di sana hampir Rp150000,-. Bandingkan dengan di Indonesia yang sim card-nya sudah gratis. Kartu perdana dapat kita beli hanya dengan Rp5000,-.

Selain sim card yang masih ada harganya, biaya langganan Blackberry Internet Service di Dubai pun mahal. Langganan BIS dengan akses ke BBM, browsing, email, dan IM dengan kapasitas lalu lintas data sebesar 50MB dihargai 90 dirham sebulan. Di Indonesia, dengan Rp99000,- kita sudah dapat semua fasilitas dengan pemakaian tidak terbatas. Namun, menggunakan operator lokal tetap akan jauh lebih murah daripada kita menggunakan international roaming.

Gambar di atas adalah gambar Gedung Etisalat di Dubai.

Sekian dulu cerita perjalanan hari pertama. Sampai ketemu pada cerita hari kedua.

19 comments:

  1. aaaaaa......jadi pingin nih kang...
    tapi saya sih pinginnya backpacker saja...keliling dunia hanya bawa badan dan ransel doang....

    ReplyDelete
  2. @widodo:
    mantap itu... saya doakan agar segera bisa tercapai, backpacking keliling dunia

    ReplyDelete
  3. Wah...
    Hari pertama saja ceritanya sudah panjang segitu...
    Nunggu cerita selanjutnya...

    ReplyDelete
  4. weh kange kerenzz wis tekan dubai...:)

    *nggelar kloso nunggu serial hari kedua, plus nunggu oleh2...;))

    ReplyDelete
  5. @marsudianto:
    Tenang, Pak Dhe. Masih ada cerita hari kedua dan hari terakhir saat akan pulang.

    @cahayabintang:
    Alhamdulillaah isa tekan kana. Jebul isih eksis ndhik internet ta? Dak kira wis klelep neng dunia nyata.

    ReplyDelete
  6. mantab kang, nanti kalo ke jepang saya ikut yah. mau ketemu mie yabi,, hahhahahaaa

    ReplyDelete
  7. @andi: hayuk, bareng2 kbbc...
    @em zanu: mie ayam kali...

    ReplyDelete
  8. Wa..... jadi kepingin nih... Kapan ya aku bisa jalan2 ke Dubai kayak Kang Kombor.....

    ReplyDelete
  9. Wah, selamat ya.. asik uy bisa jalan ke luar negeri.. langsung ke Dubai lagi.. btw, gak jalan ke Burj Dubai, Kang?? menara yang kayak Sauron Tower di film LOTR itu lho.. :D

    ReplyDelete
  10. @info terpanas: mudah-mudahan bisa segera teralisasi ya. amin.

    @muxlimo: alhamdulillah itu perjalanan saya ke luar negeri yang pertama. kalau ke malaysia dan singapura saya beberapa kali ada kesempatan tetapi tidak saya ambil. kalau ke dubai kan jauh jadi saya mau.

    kalau yang dimaksud burj khalifa saya tidak mendekat. kalau burj al arab saya sempat foto di dekatnya. cerita ada di http://www.kombor.com/2011/02/perjalanan-ke-dubai-hari-kedua.html

    ReplyDelete
  11. maksudnya yang gedung tertinggi di dunia itu, Kang.. saya tapi gak tau di sana namanya apa ya..hehehe

    sip, segera meluncur ke TKP. :D

    ReplyDelete
  12. @muxlimo: gedung tertinggi di dunia itu burj khalifa, mas. ada fotonya di cerita saya itu tetapi saya tidak mendekat.

    ReplyDelete
  13. wah asik banget tuh. ikut dong saya belum pernah ke sana.. :)
    terimakasih dan salam kenal

    ReplyDelete
  14. Obat penyakit Asam Urat: Yaa... saya kan sudah pulang :)

    ReplyDelete
  15. Menyedihkan, negara yang sebesar ini terkenal karena ke IMPORANnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. padahal kita sebenarnya bisa mandiri. entah kenapa pada takut untuk mandiri ya?

      Delete
  16. Ikutan sedih. :(
    Hal kecil kayak peniti dan payung aja indonesia nggak mampu bikin...

    Asik no mas, ke ln pertama langsung sing adoh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau hanya diajak ke malaysia atau singapura sih memang malas. luar negeri ya harus lebih jauh dari jarak jakarta - tanah merah.

      Delete

 
Toggle Footer