Rumah Pohon

Salah satu butir perjanjian Kang Kombor dengan Dhenok waktu mengajaknya pindah dari Provinsi Banten ke Daerah Istimewa Yogyakarta adalah rumah pohon. Dhenok minta dibuatkan rumah pohon. Mungkin Dhenok terinspirasi adanya artikel tentang rumah pohon di majalah Bobo yang dibacanya.

Sudah tiga bulan berselang dari kepindahan kami ke Sleman, rumah pohon belum juga Kang Kombor bikinkan. Kang Kombor selalu "semaya" nanti dan nanti. Akhirnya Dhenok tidak sabar. Waktu Kang Kombor sedang ke ibukota untuk mengembalikan mobil perusahaan yang Kang Kombor pinjam selama tiga bulan sejak pamit keluar, Dhenok nagih rumah pohonnya. Kang Kombor semaya lagi tetapi Dhenok menangis.

Janji adalah janji. Kang Kombor tidak dapat semaya lagi karena hal itu akan berakibat tidak baik pada kesehatan jiwa Dhenok. Bisa-bisa nanti Dhenok punya pikiran bahwa Kang Kombor tidak ingin menepati janji. Nggak bagus toh kalau begitu?

Dus, Kang Kombor bersama tetangga mengerjakan rumah pohon untuk Dhenok selama dua hari. Rumah pohon dibuat di antara dua batang pohon rambutan yang ada di halaman rumah pakdhenya Dhenok. Seluruh konstruksi menggunakan bambu. Dinding menggunakan triplek dan atap menggunakan daun kelapa. Kang Kombor memilih mengerjakan sendiri rumah pohon itu agar rumah pohon itu dapat dibuat sesuai dengan gambaran di benak Kang Kombor. Apabila menyuruh tukang bisa jadi si tukang punya pemikiran sendiri mengenai bentuk rumah pohon dan bisa-bisa anggaran aktual melebihi RAB yang dibuat. Kalau terjadi seperti itu bisa-bisa Kang Kombor nanti diperiksa KPK. Blaik toh!

Rumah pohon Dhenok menghabiskan 35 batang bambu apus (bambu tali), 6 meter bambu betung, dua lembar triplek, 1 kg paku 10, 1 kg paku 5, 1 kg paku 3, empat gulung kawat, 10 pelepah daun kelapa, 8 meter mulsa, beberapa bungkus rokok dan beberapa gelas teh manis serta empat bungkus gado-gado.

Akhirnya Dhenok tidak perlu ke Bogor untuk naik ke rumah pohon karena di samping rumah pun ada rumah pohon. Bahkan, rumah pohon itu tidak hanya dinaiki Dhenok. Saudara sepupunya serta anak-anak tetangga pada ikut naik. Malam minggu lalu ada empat anak usia 6 sampai 9 tahun yang tidur di rumah pohon itu. Baguslah, anak-anak bisa ikut merasakan sensasi tidur di rumah pohon. Tentu pengalaman yang bagus buat mereka.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Bantu saya dengan membagi artikel di atas ke media sosial:

Tentang Kang Kombor

Seorang blogger desa, alumni Perguruan Pirikan, pernah belajar Manajemen di FE UPH, pernah bekerja sebagai penjual (salesman), punya pengalaman seputar pengembangan bisnis (busines development) dan manajemen proyek (project management).

4 komentar

Click here for komentar
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Jumat, Oktober 21, 2011 8:48:00 AM

walah, semoga dhenok makin kerasan di sleman dan tidak ingat lagi hiruk-pikuk ibukota setelah dibikinkan rumah pohon.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Jumat, Oktober 21, 2011 9:30:00 AM

ya pak. dhenok sudah bisa menyesuaikan dengan kehidupan desa yang tidak seramai kawasan penyangga ibukota.

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Rabu, Februari 01, 2012 11:51:00 AM

Subhaanallah, Bang Kombor sukses merajut kearifan Ndesa menjadi motivasi luar biasa untuk si Dhenok, good luck Bang...

Balas
Terima Kasih Sudah Berkomentar
Sabtu, Oktober 24, 2015 10:18:00 AM

Nice info. Thanks for sharing.

Balas

Join This Site Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Silakan berkomentar dengan sopan